Selasa, 14 Februari 2012

BUDAYA INDONESIA, MATAHARI YANG MENGALAMI GERHANA

Oleh Roy Adiputra
(Mahasiswa Farmasi Universitas Airlangga)





“Kakek, wayang itu apa ya?” tanya seorang anak.
“Wayang itu salah satu kesenian tradisional Indonesia. Dulu waktu kecil, kakek pernah nonton, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi.”
Dialog seperti inilah yang akan terjadi di negeri kita 100 tahun ke depan.
Apabila kita mengamati tren yang terjadi belakangan ini, dapat dilihat bahwa budaya Indonesia semakin lama semakin habis, dan semakin tergerus oleh budaya asing. Padahal, Indonesia adalah sebuah negara yang kaya akan budaya. Hal ini terlihat dari ribuan kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia yang terdiri dari rumah adat, tarian, lagu, musik, alat musik, gambar, patung, pakaian, suara, sastra / tulisan, dan makanan.
Sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini tidak mencintai budayanya sendiri karena menganggap budaya asing lebih berkualitas, lebih keren, dan lebih high class. Di sisi lain, budaya Indonesia dipandang memiliki nilai seni dan nilai moral yang tinggi oleh bangsa lain, sehingga kemudian satu-persatu budaya tradisional Indonesia diklaim oleh bangsa lain sebagai kebudayaan mereka. Dalam kurun waktu 100 tahun ke depan, saya yakin, hampir seluruh budaya Indonesia telah diklaim oleh berbagai negara. Masyarakat Indonesia tidak protes akan hal ini karena mereka tidak peduli dan tidak mencintai budaya mereka sendiri. Budaya Indonesia habis dan masyarakatnya tidak memiliki kebudayaan yang mencerminkan kepribadian bangsa yang berkualitas. Saya menyimpulkan hal ini berdasarkan tren yang terjadi, karena saat ini saja sudah ada puluhan kebudayaan kita yang diakui sebagai milik bangsa lain maupun oknum dari bangsa lain, dan jumlahnya semakin hari semakin bertambah. Dalam 100 tahun ke depan pasti akan lebih banyak lagi budaya kita yang ‘diambilalih’ oleh bangsa lain karena kita sebagai pemilik kebudayaan cenderung pasif dalam menyikapi hal ini.
Inilah wajah Indonesia di bidang budaya dalam waktu 100 tahun ke depan.
Inilah yang akan terjadi apabila kita tidak mau berubah. Inilah yang akan terjadi apabila kita tidak mengusahakan apa-apa. Akan tetapi, saat ini perubahan bukan saja akan dimulai, tetapi telah dimulai.
Saat ini, begitu banyak ajang-ajang, seperti pertukaran pelajar dan pemuda, dan pemilihan duta wisata yang mengharuskan para pesertanya untuk menguasai setidaknya satu budaya tradisional. Hal ini akan membuat para pesertanya belajar budaya tradisional. Selain itu, dalam ajang pencarian bakat cukup banyak masyarakat yang mempertunjukkan kesenian tradisional sebagai tiket untuk menjadi finalis ajang tersebut.
Budaya Indonesia sebenarnya tidak berkurang. Boleh dikatakan masih ada, bahkan masih banyak di Indonesia. Akan tetapi, budaya Indonesia tertutupi oleh budaya asing yang dianggap lebih keren, lebih high class, dan lebih gaul oleh masyarakat Indonesia sendiri. Hal inilah yang membuat para pencinta seni tradisional merasa malu menampilkan dirinya, karena takut dianggap tidak keren, low class, ataupun tidak gaul. Padahal, jumlah masyarakat Indonesia yang masih mencintai seni tradisional dari negaranya sendiri cukup banyak jumlahnya. Inilah yang saya umpamakan dengan matahari yang mengalami gerhana. Budaya Indonesia masih ada, masih kuat, dan masih bersinar, tetapi tertutupi oleh kebudayaan asing. Pandangan seperti inilah yang perlu diluruskan. Budaya Indonesia sama bagusnya dengan budaya bangsa lain, bahkan lebih baik, karena mengandung nilai seni yang tinggi dan terdapat pesan-pesan moral di dalamnya. Tidak heran apabila terdapat puluhan budaya Indonesia yang telah diklaim oleh bangsa lain, karena kita sendiri kurang menghargai budaya kita yang luar biasa ini.
Agar masyarakat Indonesia, terutama generasi muda bangsa semakin tertarik dengan kebudayaan tradisional, maka masyarakat harus lebih banyak terpapar oleh budaya tradisional. Tidak mungkin masyarakat akan tertarik dengan kebudayaan tradisional apabila mereka tidak pernah mengetahui tentang budaya tradisional. Ada beberapa cara untuk meningkatkan paparan budaya tradisional yang saya usulkan. Yang pertama yaitu memasukkan budaya tradisional sebagai mata pelajaran wajib dalam kurikulum sekolah sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, siswa akan mempelajari budaya tradisional, dan pasti beberapa diantaranya akan tertarik untuk mendalaminya. Yang kedua adalah membuat regulasi yang mewajibkan saluran-saluran televisi untuk menayangkan acara-acara yang bermuatan kebudayaan tradisional pada jam-jam strategis. Apabila saat ini ada acara Master Chef Indonesia yang membuat masyarakat Indonesia semakin menggemari dunia kuliner, maka perlu juga diselenggarakan acara Master Seni Tradisional Indonesia yang akan membuat masyarakat Indonesia semakin menggemari dunia seni tradisional Indonesia. Hal ini penting untuk dilakukan mengingat televisi merupakan hiburan yang paling sering ditonton oleh masyarakat dan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap cara pandang dan pemikiran masyarakat luas.
Dengan kedua hal ini, masyarakat diharapkan akan memperoleh paparan yang tinggi mengenai kebudayaan tradisional sehingga mereka semakin mencintai, dan mau belajar kebudayaan negeri kita ini.
Untuk apa masyarakat menguasai budaya tradisional?
Di dalam budaya tradisional terdapat nilai-nilai moral, dan terdapat filosofi-filosofi hidup, salah satu contohnya yang terdapat dalam pertunjukkan wayang. Semakin banyak masyarakat yang mempelajari budaya tradisional, semakin banyak yang mengenal filosofi di dalamnya. Semakin banyak yang mengenal filosofi dalam kebudayaan Indonesia, semakin banyak yang mengamalkannya. Dan apabila sebagian besar masyarakat Indonesia mengamalkan filosofi yang terdapat dalam budaya tradisional, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang berkarakter kuat. Sebuah bangsa yang tangguh yang tidak mudah terpengaruh dan sebuah bangsa yang disegani oleh bangsa lain, sehingga 100 tahun mendatang, dialog seperti inilah yang akan terjadi.
“Kakek, wayang itu apa ya?” tanya seorang anak.
“Wayang itu merupakan kesenian tradisional Indonesia yang mengajarkan begitu banyak nilai moral dan filosofi kehidupan. Indonesia sekarang bisa menjadi negara yang maju karena karakter bangsa kita yang sesuai dengan karakter dalam wayang. Karakter yang penuh kejujuran, toleransi, dan kepedulian kepada orang lain. Dari dulu sampai sekarang, wayang tetap ada, selalu menjadi favorit, dan tidak pernah berhenti menghiasi Indonesia dengan filosofi kehidupannya.”
Maju terus Indonesiaku!

BAHAN BAKAR NABATI (BBN) SEBAGAI SOLUSI MENGHADAPI KRISIS ENERGI

Oleh Yahma Muhammad Sakti
(Mahasiswa FTI Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya)




            Krisis energi merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi Bangsa Indonesia saat ini. Sumber energi fosil berupa minyak bumi, gas alam dan batu bara yang selama ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari baik untuk keperluan rumah tangga maupun untuk keperluan industri dan transportasi semakin menipis seiring dengan bertambahnya waktu. Sedangkan dari data grafik konsumsi energi pada tahun 1970 hingga 2002 di bawah ini, menunjukkan bahwa kebutuhan energi yang harus dipenuhi masyarakat mengalami peningkatan dari tahun ke tahun terlebih pada sumber energi berupa minyak bumi.
            Sumber energi fosil merupakan energi yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable energy) atau tidak dapat diperoleh kembali setelah digunakan, maka diperkirakan beberapa tahun ke depan ketersediaan sumber energi tersebut akan habis di alam. Menurut perkiraan, batubara akan habis 50 tahun lagi, gas alam 30 tahun lagi dan minyak bumi 11 tahun lagi. Terbatasnya alat pemuas kebutuhan manusia dalam hal ini adalah sumber energi fosil sedangkan kebutuhan manusia itu sendiri banyak dan harus terpenuhi, tentu saja akan menimbulkan akibat fatal jika hal tersebut dibiarkan berlarut – larut tanpa adanya upaya penanggulangan, yaitu antrian berjam – jam di depan halaman SPBU yang memungkinkan munculnya tindakan anarkis di kalangan masyarakat karena berebutan demi memperoleh BBM langka yang tersedia untuk kebutuhan hidupnya, penyaluran BBM yang tidak merata, timbulnya masalah kriminalitas oleh oknum yang memanfaatkan keadaan ini untuk kepentingan pribadi dengan cara menimbun BBM dan lain sebagainya. Oleh karena itu, untuk meminimalkan dampak yang akan terjadi kemudian, pemerintah melakukan impor minyak mentah dari luar negeri. Dengan demikian, diharapkan kebutuhan manusia tetap terpenuhi dan keterbatasan sumber energi fosil dapat ditanggulangi. Namun sangat disayangkan bahwa usaha pemerintah tersebut kurang menguntungkan dalam jangka panjang karena dengan melakukan impor berarti menambah biaya transportasi, biaya angkut, pajak dan lain sebagainya, belum lagi nominal mata uang dolar yang meningkat dari tahun ke tahun memungkinkan semakin besar biaya yang harus dikeluarkan. Sebenarnya, tidak akan menjadi masalah besar jika saja harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang nantinya disalurkan ke masyarakat dijual dengan harga mahal. Mungkin saja keuntungan dapat diraih atau paling tidak bisa menutupi keseluruhan pengeluaran biaya pengadaan BBM tersebut ditambah dengan subsidi dari pemerintah yang semuanya sudah tentu melalui perhitungan yang cermat. Namun masalah lain akan muncul yakni masalah kemiskinan di kalangan masyarakat, utamanya masyarakat kecil yang sehari – harinya berprofesi sebagai buruh, petani, nelayan dan sebagainya yang penghasilannya tentu saja tidak begitu besar dibandingkan dengan mereka – mereka yang bekerja di lembaga kemasyarakatan. Kalau sudah begini, jangankan untuk makan, membeli BBM saja tidak sanggup. Harapan mereka kemiskinan segera dituntaskan, namun pada kenyataannya kemiskinan bukannya tuntas, tetapi malah semakin merajalela. Dengan demikian, untuk kasus ini Indonesia benar – benar terhimpit sedangkan pemerintah berada pada posisi yang sulit sehingga perlu adanya suatu solusi alternatif lain untuk menangani masalah krisis energi tanpa menimbulkan masalah baru di berbagai pihak. Selain hal – hal yang telah dijelaskan di atas, minimnya kapasitas produksi pabrik pengolahan minyak mentah juga turut memberikan pengaruh terhadap masalah krisis energi. Dengan demikian, pemerintah harus mengupayakan bagaimana cara meningkatkan kapasitas produksi jika pada saatnya telah ditemukan solusi menghadapi keterbatasan sumber energi fosil.
Di tengah – tengah bergemingnya masalah krisis energi di tanah air, Bahan Bakar Nabati (BBN) hadir sebagai sebuah solusi tepat dalam menangani masalah tersebut. Biodiesel, bioetanol, biogas dan briket yang akhir – akhir ini mulai ditemukan oleh kaum intelek telah membuka asa dan harapan bagi Indonesia untuk segera bangkit dari masalah krisis energi. Manfaat dari BBN pun ini ternyata cukup menjanjikan untuk masa depan Indonesia kelak. Dengan adanya BBN ini, tidak hanya masalah krisis energi yang teratasi, tetapi juga masalah kemiskinan, keterbatasan bahan baku SDA yang selanjutnya diolah menjadi bahan bakar, efisiensi pemanfaatan sumber daya alam yang kurang bermanfaat menjadi lebih bermanfaat dengan tujuan meningkatkan nilai tambah dan mutunya serta manfaat lainnya yaitu  dapat menciptakan generasi penerus yang kristis menghadapi tantangan dunia, kreatif dan inovatif dalam menemukan penemuan – penemuan baru yang berguna bagi Bangsa Indonesia di kemudian hari.
Pada dasarnya, bahan baku utama dari BBN tersebar luas hampir di seluruh wilayah Indonesia karena ntayanya Indonesia kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) yang berlimpah. Dengan demikian, BBN mudah diperoleh dan harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan bahan baku BBM. Biodiesel yang fungsinya dapat menggantikan solar sebagai bahan bakar kendaraan bermesin diesel seperti truk angutan berat dapat dibuat dari tanaman jarak pagar, minyak jelantah yang sudah tidak layak pakai, kelapa, sirsak, srikaya, kapuk dan alga. Akhir Mei 2011, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Darwin Zahedy Saleh di dampingi Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Thamrin Sihite meresmikan Biodiesel Fuel Plant yang beroperasi di Site PT. Adaro Indonesia, Kabupaten Balangan dan Kabupaten Tabalong, Tanjung, Provinsi Kalimantan Selatan.
Lain halnya dengan bioetanol, bahan bakar ini bisanya dicampurkan dengan bahan bakar bensin untuk meningkatkan bilangan oktan seperti zat aditif Methyl Tertiary Buthyl Ether (MTBE) dan Tetra Ethyl Lead (TEL) sehingga dapat meningkatkan efisiensi pembakaran mesin kendaraan dan mengurangi emisi gas buang berbahaya. Bioetanol berbahan dasar jagung, ubi kayu, ubi jalar, sagu, dan tebu. Untuk biogas yang biasanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, terbuat dari sampah organik seperti kotoran sapi atau kerbau sedangkan briket merupakan bahan bakar padat yang salah satunya dapat dibuat dari batok kelapa atau tempurung kelapa (www.chem-is-try.org). Mengingat mudahnya memperoleh sumber bahan baku utama BBN, pemerintah tidak lantas diam saja menunggu panen kemudian memetik tanpa adanya upaya pengembangan tanaman dan ternak yang berpotensi menghasilkan sumber energi tersebut. Melainkan perlu adanya suatu program budidaya tanaman penghasil biodiesel, bioetanol dan briket serta pemeliharaan hewan – hewan  ternak penghasil biogas.
Dalam memenuhi program tersebut, tentu saja memerlukan peranan dari masyarakat kecil seperti para petani. Hal ini disamping membantu pemerintah, juga membantu meningkatkan taraf hidup para petani yang selama ini pendapatannya tidak seberapa besar. Dengan bekerja mengolah lahan seluas beberapa hektar bersama pemerintah, dimungkinkan pendapatan mereka bertambah ketimbang pendapatan yang dihasikan dari penjualan hasil panen mereka sebelumnya yang diperoleh dengan susah payah.
Pemanfaatan BBN sebagai sumber energi alternatif masa depan mendatangkan sisi positif di mata masyarakat yang tidak peduli dengan sampah – sampah yang acap kali mereka temui sepanjang jalan. Setidaknya dengan adanya BBN ini, masyarakat berpikir dua kali untuk mengacuhkan sampah – sampah tersebut yang kenyataannya dapat mendatangkan keuntungan bagi mereka. Selama ini, mungkin mereka membiarkan sampah – sampah organik seperti sampah sayuran, limbah tahu dan sebagainya berserakan dimana – mana. Tetapi setelah tahu bahwa sampah tersebut dapat diolah menjadi bioetanol dan biogas serta meningkatkan nilai manfaatnya dari sesuatu yang kurang berguna menjadi sesuatu yang lebih berguna, sehingga tumbullah kepedulian di dalam diri mereka. Dengan demikian, jelaslah bahwa BBN juga akan mencetak masyarakat Indonesia yang kreatif dan inovatif dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Menilik pada potensi negara Indonesia yang besar terutama untuk ketersediaan bahan baku, sudah sepantasnya negara Indonesia berani menunjukkan potensinya kepada dunia sebagai negara penghasil bioenergi dunia. Berbagai tantangan kedepannya dalam pengembangan bioenergi ini, terutama pada aspek modal, pengembangan teknologi, permasalahan hambatan sosial, dan keterbatasan pasar dan penguna sudah seharusnya menjadi tanggung jawab bersama pemerintah, masyarakat, kaum intelek dan pihak-pihak terkait untuk mencari solusinya. Diharapkan dalam 100 tahun ke depan, Indonesia dapat menjadi jawara dunia dalam bidang energi. Dalam mencapai harapan tersebut, harus disadari bahwa keberhasilan tidak datang dengan sendirinya, tetapi merupakan suatu hasil kerja keras dari semua pihak.




INOVASI VERSUS KEARIFAN LOKAL (Peran Kearifan Lokal Mendukung Inovasi Demi Kebangkitan Indonesia)



Oleh Raja Maspin Winata
 (Mahasiswa S-1 Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara)


Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kearifan lokal ? Secara umum, kearifan lokal dapat dimaknai sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan,  bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Dalam kearifan lokal, terkandung pula kearifan budaya lokal. Adapun kearifan budaya lokal ialah pengetahuan lokal yang sudah sedemikian menyatu dengan sistem kepercayaan, norma, dan budaya, serta diekspresikan dalam tradisi dan mitos yang dianut dalam jangka waktu yang lama.
Inovasi dan kearifan lokal acapkali dipandang saling bertentangan. Inovasi, sebagai cikal bakal atau pemicu awal bergulirnya perubahan sosial, dianggap mewakili sisi masyarakat yang modern, dinamis, serta penuh semangat untuk mencapai kemajuan. Sedangkan kearifan lokal sering dituding terlalu tradisional, statis, dan cenderung mengandung keinginan mempertahankan keadaan tetap sebagaimana adanya. Asumsi tersebut diperkuat pula oleh pendapat kebanyakan tokoh teori modernisasi bahwa budaya tradisional, termasuk kearifan lokal, merupakan tanda keterbelakangan dan penghambat dalam pencapaian kemajuan sosial ekonomis. Suatu pendapat yang semakin mengokohkan polarisasi antara inovasi dengan kearifan lokal.
            Namun, pendapat berbeda dikemukakan oleh Michael R. Dove (dalam Suwarsono, 1994 : 62-63). Bagi Dove, tradisional tidak harus berarti terbelakang. Dalam kajiannya mengenai interaksi antara kebijaksanaan pembangunan nasional Indonesia dengan beragam budaya maupun kearifan lokal, Dove melihat bahwa budaya tradisional sangat dan selalu terkait dengan proses perubahan ekonomi, sosial, dan politik dari masyarakat pada tempat dimana budaya tradisional tersebut melekat. Jika demikian halnya, menurut Dove, budaya tradisional akan senantiasa mengalami perubahan yang dinamis, sehingga sama sekali tidak menghambat inovasi menuju kemajuan.
            Sebagai contoh, lihat saja bagaimana dua bangsa Asia Timur, yaitu Jepang dan Cina, telah lama menggabungkan kearifan lokal serta tradisi spiritualitasnya yang kaya dengan inovasi dan kemajuan ilmu pengetahuan modern. Jepang, misalnya, selalu memadukan prinsip-prinsip manajemen modern dengan tradisi Kaizen yang diwarisi dari era Samurai dahulu. Bukan hanya itu, dalam proses modernisasi Jepang, nilai-nilai tradisional seperti ’loyalitas tanpa batas pada Kaisar’ akan dengan mudah diubah menjadi ’loyalitas pada perusahaan’, sehingga sangat membantu meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan mengurangi pembajakan ataupun perpindahan tenaga kerja antar perusahaan. Sedangkan di Cina, nyaris semua gedung bertingkat yang ada di kota-kota besar negeri Tirai Bambu itu dirancang berdasarkan prinsip Feng Shui, meski tentunya tanpa mengabaikan kaidah-kaidah arsitektur modern.
            Mencermati kegemilangan yang diraih bangsa-bangsa lain ketika berhasil mencari titik temu antara kearifan lokal dan inovasi, rasanya terlalu naif bila masih saja mempertentangkan keduanya. Terlebih bila mengingat bahwa bangsa Indonesia lahir atas dasar kesepakatan berbagai nilai, baik yang bersifat sentripetal (pusat) maupun sentrifugal (daerah). Dengan demikian, abai terhadap nilai dan kearifan lokal berarti melawan kodrat sebagai negara bangsa.
            Dalam masyarakat Indonesia yang multikultural, sesungguhnya tidaklah sulit menemukenali berbagai kearifan lokal yang hidup dan menghidupi masyarakat. Kearifan lokal dapat ditemui dalam nyanyian, pepatah, petuah, ataupun semboyan kuno yang melekat pada keseharian. Kearifan lokal biasanya tercermin pula dalam kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat yang telah berlangsung lama ataupun nilai-nilai yang berlaku di kelompok masyarakat bersangkutan. Nilai-nilai tersebut umumnya dijadikan pegangan, bahkan bagian hidup yang tak terpisahkan, hingga dapat diamati melalui sikap dan perilaku sehari-hari. Kearifan lokal tadi, jika didayagunakan dengan tepat, diyakini akan mampu mendorong inovasi dan perubahan ke arah kemegahan serta kegemilangan seutuhnya.
Berbicara tentang inovasi, tentunya takkan mungkin terjadi bila tak didukung oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai. Ini sudah diingatkan sejak dahulu oleh kearifan lokal Yogyakarta. Mencari pengetahuan itu adalah keharusan bagi setiap orang. Pencarian pengetahuan harus dijalani dengan usaha keras agar dapat dicapai hasil yang memadai (ngèlmu iku kelakoné kanthi laku).
            Selanjutnya, di Sumatera Utara, ada kearifan lokal yang menyatakan ’adat hidup berkaum bangsa, sakit senang sama dirasa, adat hidup berkaum bangsa, tolong menolong rasa merasa’.  Kearifan lokal ini sesungguhnya sangat bermakna dalam merekatkan solidaritas antar anggota masyarakat. Bila benar-benar dipedomani, maka kegairahan untuk berinovasi dan mengembangkan diri dipastikan meningkat karena dirasa bermanfaat bagi kepentingan bersama. Kemajuan salah satu pihak akan dipandang sebagai kemajuan bersama dan dapat dimanfaatkan demi mengangkat harkat sesama. Sebaliknya, kemunduran harus dihindari karena merugikan semua orang.
Meskipun dibatasi oleh kefanaan, tetapi kearifan lokal yang cukup menonjol di Yogyakarta ialah bahwa setiap manusia sepatutnya bersungguh-sungguh berusaha keras secara tanpa kenal lelah (sepi ing pamrih ramé ing gawé). Bila dimaknai secara mendalam, ini berarti bahwa setiap orang harus ulet dalam bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri dan keluarga. Keuletan serta produktivitas kerja dipandang sebagai hal yang bernilai. Dengan demikian, tak mengherankan bila yang timbul kemudian adalah semangat untuk senantiasa berinovasi dan meningkatkan kinerja. Perlu diingat pula bahwa bekerja tidak boleh sembarangan, tergesa-gesa, atau asal jadi, melainkan harus teliti, cermat, dan penuh perhitungan, supaya beroleh hasil maksimal (alon-alon waton kelakon, kebat kliwat, gancang pincang).
            Adapun di Lampung, terdapat prinsip ’nemui nyapur’ atau membuka diri dalam pergaulan. Bagaimana prinsip ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung inovasi ? Inovasi tak pernah datang begitu saja. Inovasi lazimnya diawali keingintahuan atau ketidakpuasan, upaya mencari jawaban atau pemecahan, pengumpulan sumber daya untuk memulai inovasi sebagai jawaban atau pemecahan, dan lantas diakhiri dengan menyebarluaskan inovasi agar diketahui serta nantinya dapat dimanfaatkan oleh sebanyak mungkin anggota masyarakat. Dalam pengumpulan sumber daya serta upaya menyebarluaskan inilah pergaulan menjadi sangat penting.
Dengan pergaulan dan jejaring sosial yang luas, takkan sulit bagi seorang inovator untuk menghimpun sumber daya yang dibutuhkannya. Jejaring sosial pada gilirannya juga dapat menumbuhkan rasa percaya, saling memahami, saling mendukung, juga kesamaan nilai,  sehingga turut mendukung ditemukannya inovasi serta terobosan-terobosan baru. Dan ketika inovasi telah mewujud, jejaring sosial kembali bisa dimanfaatkan sebagai media untuk menyebarluaskannya.
Beralih ke Nusa Tenggara Timur, prinsip ’bugu wai kungu, uri wai logo’ merupakan kearifan lokal yang cukup menonjol. Prinsip ini bermakna bahwa setiap orang harus ulet dalam bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri dan keluarga. Disini tampak betapa keuletan serta produktivitas kerja dipandang sebagai hal yang berharga. Dengan demikian, tak mengherankan bila setiap orang pada akhirnya terpacu untuk senantiasa berinovasi dan bekerja.
Di Gorontalo, terdapat kearifan lokal yang mengandung ajakan ’dulo ito momongu lipu’ (mari kita membangun negeri). Dalam hal ini, segenap pemangku kepentingan (stakeholders) masyarakat diajak untuk terlibat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan nasional. Pembangunan merupakan segenap usaha yang diinginkan dan direncanakan (intended and planned changes) untuk mencapai kemakmuran  material (standard of life) dan sosial (quality of life) yang lebih baik, lebih maju, lebih diharapkan dari kondisi sebelumnya.
Dalam pembangunan, faktor terpenting sesungguhnya adalah manusia, karena merupakan pelaksana, sekaligus sebagai sasaran pembangunan itu sendiri. Keterlibatan manusia dalam pembangunan adalah sebagai subyek pelaku dan penikmat pembangunan itu sendiri. Mengutamakan manusia dalam pembangunan berarti memberi peluang pada manusia lebih banyak untuk berperan aktif, mengerahkan kapasitasnya, dan menjadi aktor sosial ketimbang obyek yang pasif. Ini, antara lain, dapat ditempuh melalui dorongan terhadap lahirnya beragam inovasi yang dapat meningkatkan taraf hidup dan mendukung upaya pencapaian tatanan sebagaimana dicita-citakan bersama. Ajakan ’dulo ito momongu lipu’ hampir senada dengan kearifan lokal yang dikenal di Papua, yakni ’sep de pep ne depik tibo senem’ (kita bergandengan tangan untuk membangun) dan ’mbilim kayam’ (membangun bersama). 
Pada akhirnya, inovasi semestinya pula mempertimbangkan pengembangan keberlanjutan (sustainable development), agar pembangunan dapat sejalan dengan upaya mempertahankan daya dukung lingkungan. Inovasi di bidang energi, misalnya, diharapkan mampu menemukan sumber-sumber energi alternatif dan cara pemanfaatannya secara massal untuk menggantikan sumber energi fosil (minyak bumi, batubara, gas alam) yang telah terbukti sebagai penyebab utama meningkatnya kerusakan lingkungan serta pemanasan global.
Pemenuhan kebutuhan masa kini juga selayaknya mempertimbangkan keberlanjutan di masa depan (lumintu) sebagaimana diingatkan oleh kearifan lokal masyarakat Yogyakarta. Jangan sampai, dengan alasan inovasi, malah terjadi keserakahan ataupun eksploitasi secara berlebihan (angkara murka) sehingga mengancam kelestarian lingkungan. Bagaimana pun, kelestarian amat ditentukan oleh kecakapan dan kebijaksanaan manusia (rahayuning bawana kapurba waskithaning manungsa). Lagi-lagi, inovasi dibutuhkan untuk mengintensifkan pemanfaatan lingkungan, tanpa harus memperluas lingkup eksploitasinya.
Tentunya masih banyak lagi kearifan lokal lainnya yang belum dapat diuraikan satu per satu. Apapun itu, sejatinya menjadi tantangan bersama untuk terus berupaya menggali kearifan lokal sebagai upaya mendukung penciptaan inovasi dalam masyarakat. Semoga dengan demikian, bangsa Indonesia akan selangkah lebih dekat lagi ke arah kebangkitan, kemegahan, dan kegemilangan seutuhnya tanpa sedikit pun mengabaikan identitas budayanya sebagai bangsa yang besar.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution