Selasa, 14 Februari 2012

INOVASI VERSUS KEARIFAN LOKAL (Peran Kearifan Lokal Mendukung Inovasi Demi Kebangkitan Indonesia)



Oleh Raja Maspin Winata
 (Mahasiswa S-1 Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara)


Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kearifan lokal ? Secara umum, kearifan lokal dapat dimaknai sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan,  bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Dalam kearifan lokal, terkandung pula kearifan budaya lokal. Adapun kearifan budaya lokal ialah pengetahuan lokal yang sudah sedemikian menyatu dengan sistem kepercayaan, norma, dan budaya, serta diekspresikan dalam tradisi dan mitos yang dianut dalam jangka waktu yang lama.
Inovasi dan kearifan lokal acapkali dipandang saling bertentangan. Inovasi, sebagai cikal bakal atau pemicu awal bergulirnya perubahan sosial, dianggap mewakili sisi masyarakat yang modern, dinamis, serta penuh semangat untuk mencapai kemajuan. Sedangkan kearifan lokal sering dituding terlalu tradisional, statis, dan cenderung mengandung keinginan mempertahankan keadaan tetap sebagaimana adanya. Asumsi tersebut diperkuat pula oleh pendapat kebanyakan tokoh teori modernisasi bahwa budaya tradisional, termasuk kearifan lokal, merupakan tanda keterbelakangan dan penghambat dalam pencapaian kemajuan sosial ekonomis. Suatu pendapat yang semakin mengokohkan polarisasi antara inovasi dengan kearifan lokal.
            Namun, pendapat berbeda dikemukakan oleh Michael R. Dove (dalam Suwarsono, 1994 : 62-63). Bagi Dove, tradisional tidak harus berarti terbelakang. Dalam kajiannya mengenai interaksi antara kebijaksanaan pembangunan nasional Indonesia dengan beragam budaya maupun kearifan lokal, Dove melihat bahwa budaya tradisional sangat dan selalu terkait dengan proses perubahan ekonomi, sosial, dan politik dari masyarakat pada tempat dimana budaya tradisional tersebut melekat. Jika demikian halnya, menurut Dove, budaya tradisional akan senantiasa mengalami perubahan yang dinamis, sehingga sama sekali tidak menghambat inovasi menuju kemajuan.
            Sebagai contoh, lihat saja bagaimana dua bangsa Asia Timur, yaitu Jepang dan Cina, telah lama menggabungkan kearifan lokal serta tradisi spiritualitasnya yang kaya dengan inovasi dan kemajuan ilmu pengetahuan modern. Jepang, misalnya, selalu memadukan prinsip-prinsip manajemen modern dengan tradisi Kaizen yang diwarisi dari era Samurai dahulu. Bukan hanya itu, dalam proses modernisasi Jepang, nilai-nilai tradisional seperti ’loyalitas tanpa batas pada Kaisar’ akan dengan mudah diubah menjadi ’loyalitas pada perusahaan’, sehingga sangat membantu meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan mengurangi pembajakan ataupun perpindahan tenaga kerja antar perusahaan. Sedangkan di Cina, nyaris semua gedung bertingkat yang ada di kota-kota besar negeri Tirai Bambu itu dirancang berdasarkan prinsip Feng Shui, meski tentunya tanpa mengabaikan kaidah-kaidah arsitektur modern.
            Mencermati kegemilangan yang diraih bangsa-bangsa lain ketika berhasil mencari titik temu antara kearifan lokal dan inovasi, rasanya terlalu naif bila masih saja mempertentangkan keduanya. Terlebih bila mengingat bahwa bangsa Indonesia lahir atas dasar kesepakatan berbagai nilai, baik yang bersifat sentripetal (pusat) maupun sentrifugal (daerah). Dengan demikian, abai terhadap nilai dan kearifan lokal berarti melawan kodrat sebagai negara bangsa.
            Dalam masyarakat Indonesia yang multikultural, sesungguhnya tidaklah sulit menemukenali berbagai kearifan lokal yang hidup dan menghidupi masyarakat. Kearifan lokal dapat ditemui dalam nyanyian, pepatah, petuah, ataupun semboyan kuno yang melekat pada keseharian. Kearifan lokal biasanya tercermin pula dalam kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat yang telah berlangsung lama ataupun nilai-nilai yang berlaku di kelompok masyarakat bersangkutan. Nilai-nilai tersebut umumnya dijadikan pegangan, bahkan bagian hidup yang tak terpisahkan, hingga dapat diamati melalui sikap dan perilaku sehari-hari. Kearifan lokal tadi, jika didayagunakan dengan tepat, diyakini akan mampu mendorong inovasi dan perubahan ke arah kemegahan serta kegemilangan seutuhnya.
Berbicara tentang inovasi, tentunya takkan mungkin terjadi bila tak didukung oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai. Ini sudah diingatkan sejak dahulu oleh kearifan lokal Yogyakarta. Mencari pengetahuan itu adalah keharusan bagi setiap orang. Pencarian pengetahuan harus dijalani dengan usaha keras agar dapat dicapai hasil yang memadai (ngèlmu iku kelakoné kanthi laku).
            Selanjutnya, di Sumatera Utara, ada kearifan lokal yang menyatakan ’adat hidup berkaum bangsa, sakit senang sama dirasa, adat hidup berkaum bangsa, tolong menolong rasa merasa’.  Kearifan lokal ini sesungguhnya sangat bermakna dalam merekatkan solidaritas antar anggota masyarakat. Bila benar-benar dipedomani, maka kegairahan untuk berinovasi dan mengembangkan diri dipastikan meningkat karena dirasa bermanfaat bagi kepentingan bersama. Kemajuan salah satu pihak akan dipandang sebagai kemajuan bersama dan dapat dimanfaatkan demi mengangkat harkat sesama. Sebaliknya, kemunduran harus dihindari karena merugikan semua orang.
Meskipun dibatasi oleh kefanaan, tetapi kearifan lokal yang cukup menonjol di Yogyakarta ialah bahwa setiap manusia sepatutnya bersungguh-sungguh berusaha keras secara tanpa kenal lelah (sepi ing pamrih ramé ing gawé). Bila dimaknai secara mendalam, ini berarti bahwa setiap orang harus ulet dalam bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri dan keluarga. Keuletan serta produktivitas kerja dipandang sebagai hal yang bernilai. Dengan demikian, tak mengherankan bila yang timbul kemudian adalah semangat untuk senantiasa berinovasi dan meningkatkan kinerja. Perlu diingat pula bahwa bekerja tidak boleh sembarangan, tergesa-gesa, atau asal jadi, melainkan harus teliti, cermat, dan penuh perhitungan, supaya beroleh hasil maksimal (alon-alon waton kelakon, kebat kliwat, gancang pincang).
            Adapun di Lampung, terdapat prinsip ’nemui nyapur’ atau membuka diri dalam pergaulan. Bagaimana prinsip ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung inovasi ? Inovasi tak pernah datang begitu saja. Inovasi lazimnya diawali keingintahuan atau ketidakpuasan, upaya mencari jawaban atau pemecahan, pengumpulan sumber daya untuk memulai inovasi sebagai jawaban atau pemecahan, dan lantas diakhiri dengan menyebarluaskan inovasi agar diketahui serta nantinya dapat dimanfaatkan oleh sebanyak mungkin anggota masyarakat. Dalam pengumpulan sumber daya serta upaya menyebarluaskan inilah pergaulan menjadi sangat penting.
Dengan pergaulan dan jejaring sosial yang luas, takkan sulit bagi seorang inovator untuk menghimpun sumber daya yang dibutuhkannya. Jejaring sosial pada gilirannya juga dapat menumbuhkan rasa percaya, saling memahami, saling mendukung, juga kesamaan nilai,  sehingga turut mendukung ditemukannya inovasi serta terobosan-terobosan baru. Dan ketika inovasi telah mewujud, jejaring sosial kembali bisa dimanfaatkan sebagai media untuk menyebarluaskannya.
Beralih ke Nusa Tenggara Timur, prinsip ’bugu wai kungu, uri wai logo’ merupakan kearifan lokal yang cukup menonjol. Prinsip ini bermakna bahwa setiap orang harus ulet dalam bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri dan keluarga. Disini tampak betapa keuletan serta produktivitas kerja dipandang sebagai hal yang berharga. Dengan demikian, tak mengherankan bila setiap orang pada akhirnya terpacu untuk senantiasa berinovasi dan bekerja.
Di Gorontalo, terdapat kearifan lokal yang mengandung ajakan ’dulo ito momongu lipu’ (mari kita membangun negeri). Dalam hal ini, segenap pemangku kepentingan (stakeholders) masyarakat diajak untuk terlibat memberikan kontribusi positif bagi pembangunan nasional. Pembangunan merupakan segenap usaha yang diinginkan dan direncanakan (intended and planned changes) untuk mencapai kemakmuran  material (standard of life) dan sosial (quality of life) yang lebih baik, lebih maju, lebih diharapkan dari kondisi sebelumnya.
Dalam pembangunan, faktor terpenting sesungguhnya adalah manusia, karena merupakan pelaksana, sekaligus sebagai sasaran pembangunan itu sendiri. Keterlibatan manusia dalam pembangunan adalah sebagai subyek pelaku dan penikmat pembangunan itu sendiri. Mengutamakan manusia dalam pembangunan berarti memberi peluang pada manusia lebih banyak untuk berperan aktif, mengerahkan kapasitasnya, dan menjadi aktor sosial ketimbang obyek yang pasif. Ini, antara lain, dapat ditempuh melalui dorongan terhadap lahirnya beragam inovasi yang dapat meningkatkan taraf hidup dan mendukung upaya pencapaian tatanan sebagaimana dicita-citakan bersama. Ajakan ’dulo ito momongu lipu’ hampir senada dengan kearifan lokal yang dikenal di Papua, yakni ’sep de pep ne depik tibo senem’ (kita bergandengan tangan untuk membangun) dan ’mbilim kayam’ (membangun bersama). 
Pada akhirnya, inovasi semestinya pula mempertimbangkan pengembangan keberlanjutan (sustainable development), agar pembangunan dapat sejalan dengan upaya mempertahankan daya dukung lingkungan. Inovasi di bidang energi, misalnya, diharapkan mampu menemukan sumber-sumber energi alternatif dan cara pemanfaatannya secara massal untuk menggantikan sumber energi fosil (minyak bumi, batubara, gas alam) yang telah terbukti sebagai penyebab utama meningkatnya kerusakan lingkungan serta pemanasan global.
Pemenuhan kebutuhan masa kini juga selayaknya mempertimbangkan keberlanjutan di masa depan (lumintu) sebagaimana diingatkan oleh kearifan lokal masyarakat Yogyakarta. Jangan sampai, dengan alasan inovasi, malah terjadi keserakahan ataupun eksploitasi secara berlebihan (angkara murka) sehingga mengancam kelestarian lingkungan. Bagaimana pun, kelestarian amat ditentukan oleh kecakapan dan kebijaksanaan manusia (rahayuning bawana kapurba waskithaning manungsa). Lagi-lagi, inovasi dibutuhkan untuk mengintensifkan pemanfaatan lingkungan, tanpa harus memperluas lingkup eksploitasinya.
Tentunya masih banyak lagi kearifan lokal lainnya yang belum dapat diuraikan satu per satu. Apapun itu, sejatinya menjadi tantangan bersama untuk terus berupaya menggali kearifan lokal sebagai upaya mendukung penciptaan inovasi dalam masyarakat. Semoga dengan demikian, bangsa Indonesia akan selangkah lebih dekat lagi ke arah kebangkitan, kemegahan, dan kegemilangan seutuhnya tanpa sedikit pun mengabaikan identitas budayanya sebagai bangsa yang besar.

1 komentar:

Robby Heldy mengatakan...

Kearifan lokal membentuk akar budaya hidup yang berlandaskan nilai kebenaran universal.

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution