Jumat, 10 Februari 2012

MEMPERANAKKAN ALERGI (Toleransi Beragama Sebagai Tonggak Kebangkitan Indonesia)



Oleh Lukman Hakim 
(Mahasiswa Jurusan Akidah Filsafat Fak. Ushuluddin Iain Raden Fatah Palembang) 

Awal 2010. Gedung yang didominasi warna hijau itu riuh oleh tetamu. Saya juga di sana, terpacak di tengah ribuan orang yang tak semua saya kenal. Waktu itu, bukan di tempat ini belaka, semua orang tanpa komando serentak menggelar seremoninya masing-masing.  Sore hari saya memelototi tivi. Di sana-sini, di masjid, di gereja, di klenteng, di wihara, dan di tempat-tempat yang lain, banyak digelar acara dengan variasi bermacam-macam. Semua pada intinya bermaksud menyenandungkan doa. Ya, ritual permohonan kepada “tuhan” teruntuk tokoh yang empat puluh harinya kami peringati pada malam hari itu; Gus Dur. Mantan Presiden Kyai Haji Abdurrahman Wahid yang wafat pada 30 Desember 2009.
Berangkat dengan motor dan setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, sampailah saya di kantor  Pengurus Wilayah sebuah organisasi sosial keagamaan besar. Saya membayangkan sebelumnya, di markas kaum islam tradisional, di pusat kota Palembang itu, seperti biasa saya akan bersua dengan sang Rais Syuriah. Atau kalau bukan, barangkali saya akan bertemu dengan Ketua Tanfidziyah. Dan selain mereka berdua, masih laik lazimnya, saya akan berjumpa dengan sesama kaum sarungan; warga yang memang mencapai lebih dari seribu pada saat itu. Tetapi saya mulai terhenyak, di ruang lobi, ruang yang harus Anda lalui sebelum menuju aula lokasi tahlil dan doa bersama, puluhan perempuan muda berkostum putih-putih duduk berjajar mengawasi para tamu yang masuk. Sementara alunan shalawat Nabi masih didentumkan oleh sound system, kedua bola mata saya terpahat pada liontin salib yang mereka kenakan. Saya terperanjat, astaghfirullah, bagaimana bisa para suster gereja ini berada di sini, di antara ribuan muslim yang bisa dibilang “fanatik” ini? Bagaimana mungkin kami duduk berdampingan dengan mereka?
Ah, saya kira letup-letup perasaan ini hanya kepunyaan saya belaka. Buktinya, saudara-saudara saya yang seiman tampak baik-baik saja. Setidak-tidaknya situasi terlihat tertib. Tidak ditemukan gejala “permusuhan” dalam artinya yang sangat harfiyah, meski kami tak bisa menafikan kesan dingin yang menyelimuti langit-langit pertemuan pada malam hari itu. Kedua umat tak saling sapa. Kedua umat tak saling bicara. Seperti ada garis maya yang membuat setiap orang hanya mungkin berinteraksi dengan kelompoknya masing-masing.
Isya menjelang. Para tamu, kami dan mereka, sudah memasuki ruangan. Adzan dikumandangkan dan kaum muslim mendirikan kewajiban shalat. Di sudut sana, para suster berikut belasan orang laki-laki termangu bersila. Saya merasa risih, tentu saja. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana jadinya jika suatu saat nanti saya bertemu kembali dengan mereka. Saat itu, jumlah mereka lebih banyak daripada kelompok yang saya bawa. Di situ, tanpa memedulikan keberadaan kami, mereka mengadakan kebaktian. Sementara itu kami harus menunggu dan menikmati “pemandangan” asing tersebut.
Seperti itulah kira-kira yang terjadi pada seremoni doa bersama malam hari itu. Acara berlangsung serba sederhana dan serba kaku. Saya menduga panitia memang tidak atau belum memiliki persiapan yang cukup untuk mengakali pertemuan kedua kubu. Saya juga menduga, panitia yang terdiri dari orang-orang muslim itu tidak mengadakan komunikasi sebelumnya dengan tamu non muslim sehingga acara pun berjalan monolog ala orang islam. Ada tahlil yang panjang, ada doa penutup oleh seorang habib.  Bapak pastor tak mengucap barang sepatah kata. Tidak ada yang menginterupsi perihal “hak”. Tidak dari kami, tidak pula mereka. Yang tersisa cuma serba serbi rasa.
Demikianlah sejumput ilustrasi yang menggambarkan betapa dingin dan kakunya sikap kita dalam hal berinteraksi lintas iman. Lebih-lebih dalam soal menyangkut ritualitas seperti pada kasus di atas, perasaan yang sama juga acap muncul di tengah pergaulan masyarakat. Ada semacam batasan, ada gap, berupa perasaan-perasaan tak enak ketika berdampingan dengan penganut agama lain. Perasaan yang sama sekali tidak kita temui ketika kita bergumul dengan sesama kita sendiri.
Orang ramai bisa saja menyebutnya wasangka. Ketika kita berupaya mengambil jarak dari sesuatu yang lain karena, misalnya, takut. Orang lain boleh jadi menamainya pertahanan diri (self defense). Gerak refleks yang dimunculkan oleh tubuh seketika bersentuhan dengan segala yang asing. Saya, oleh sebab barangkali pengalaman-pengalaman pribadi, lebih senang menyebutnya alergi. Ancaman sesungguhnya bagi perkembangan ide toleransi.
***

Kita mungkin bisa berpura-pura mendendangkan beragam jargon untuk mengampanyekan ide toleransi beragama. Kita mungkin bisa menyembunyikan pelbagai jenis kompleks psikologis pada saat mendukung wacana kerukunan antar umat beragama. Kita mungkin bisa nampak sangat harmonis, duduk sama rendah bersama dengan pemeluk agama lain. Tetapi betulkah kita bisa memungkiri gurat-gurat perasaan, yang mungkin hanya kita rasakan sendiri, dan yang tadi saya sebut dengan istilah alergi?
Ah, sayang sekali, dengan jujur saya akui saya tak mampu. Saya memang tidak dan belum pernah secara langsung menanyakan apakah perasaan yang sama juga dimiliki oleh para pioner toleransi beragama. Tetapi haqqul yakin, sindrom alergi seperti ini masih menjadi wabah di kalangan bukan elit, tempat di mana saya sekarang bermukim. Ya, saya berani bertaruh.
Ambil misal sederhana. Suatu saat kami yang memang gandrung menghibur diri dengan menonton tivi, dibikin terpesona oleh kehebatan berakting dari seorang aktris sebutlah bernama A. Bukan saja jago akting, paras wajah si A juga enak dilihat. Pokoknya kami ngefans. Tapi itu dulu, sebelum kami mengetahui kenyataan bahwa si A tidak menganut keyakinan yang serupa dengan kami. Setelah itu, sesudah kami semua tahu, kecintaan kami pada sang artis perlahan mulai menurun. Jika pun kami masih suka melihat film-filmnya, semua sudah tak lagi sama. Rasanya sudah berbeda.
Pertanyaannya, mengapa kita kerap bias teologis dalam memandang keberadaan seseorang? Lantas kenapa setiap orang yang berbeda, lebih-lebih perbedaan agama, selalu kita nilai dengan nalar yang dipenuhi alergi?
Hemat saya, sejak awal memang ada yang keliru dengan pola penanaman akidah dalam realitas masyarakat kita. Sedari mula orang-orang tua kita, termasuk juga guru-guru kita, menabur benih keyakinan dengan cara memberangus keberadaan keyakinan lain. Pendeknya, agar keyakinan keberagamaan tertanam dengan kuat, satu hal paling penting yang musti diketahui oleh anak atau murid seperti kita adalah dengan melansir kesalahan dan atau keburukan agama lain.
Ya, kita terbiasa membuktikan kebenaran sesuatu dengan cara menyebutkan kesalahan hal yang lain. Dalam ilmu logika saja sebetulnya ini sudah keliru. Argumentum ad Hominem, salah satu dari banyak macam sesat pikir. Tetapi imbas yang lebih buruk adalah terbentuknya kesadaran psikologis betapa penganut agama lain itu “menjijikkan” (sebab hanya agama saya sajalah yang suci?).
Memang dalam konteks berkeyakinan, kita hanya harus meyakini satu saja agama yang benar, yakni agama kita, dan yang lain salah. Tetapi terus menerus membuhulkan kesalahan-kesalahan agama lain juga bukan sesuatu yang elok. Barangkali kita berargumentasi bahwa dengan begini kita sedang membikin benteng buat keyakinan keberagamaan kita. Alih-alih kastil yang kukuh, kita malah membangun istana dari reruntuhan. Coba bayangkan, bagaimana jika suatu saat nanti kita mendapati agama yang dulu kita jelek-jelekkan itu ternyata berkebalikan dengan citra buruk yang selama ini terbangun? Bukankah kita akan lebih mudah berbalik arah? Efek negatif yang lain, yang menjadi sentral perbincangan kita, jika pun benteng itu dapat terbangun dengan kukuh, maka iman yang dihasilkan pun berupa keyakinan yang sudah terkontaminasi oleh dosa-dosa yang lain. Salah satunya adalah dosa kebencian atau yang di atas saya sebut dengan alergi. Akibat praktisnya dapat kita lihat dalam sikap-sikap intoleran, bahkan terkadang mewujud dalam kekerasan atas nama agama. Yang lebih ringan adalah, bahasa islamnya, su’u dzon (buruk sangka). 
Sekecil apapun alergi macam ini, apabila kita terus menerus merawatnya, tidak akan memberikan hasil apapun yang lebih baik. Dalam hal kampanye toleransi antar umat beragama, kita boleh saja di depan media, di hadapan khalayak, termasuk kalangan yang berteriak lantang. Tetapi ketika kembali ke tengah-tengah kaum kita sendiri, kita masih juga berbisik tentang kejelekan-kejelekan mereka, kebanyakan dalam format kelakar-kelakar ringan.
Bagi saya, toleransi yang didirikan secara setengah hati, yang dipenuhi oleh citra alergi, seperti ini adalah toleransi yang rentan. Bangunan toleransi beragama yang telah didirikan dengan susah payah akan seketika ambruk diterjang oleh setitik kesalahpahaman, provokasi, mis-komunikasi, dan lain-lain.
***

Saya amat tertarik dengan ajaran yang diberikan oleh tokoh ibu dalam film My Name is Khan. Rizwan kecil suatu kali hampir saja dijangkiti sindrom alergi seperti telah saya sebut-sebut, kalau saja sang Ibu tak segera memergokinya. Singkat cerita, sang ibu lantas memberikan pelajaran amat berharga yang bahkan masih diingat Rizwan pada saat ia dewasa kelak. Pada buku tulis sang ibu menggambar dua sosok manusia. Seorang memegang permen, orang yang lain membawa kayu. Ibu bertanya kepada Rizwan, “manakah dari kedua orang itu yang beragama Islam?”. Rizwan menjawab, “Keduanya nampak sama”. Betul, tegas sang ibu, tidak ada perbedaan selain perbedaan antara orang baik (yang memberi permen) dan orang jahat (yang memukul dengan kayu).
Diakui atau tidak, kita kerap mengategorisasi manusia berdasarkan pada agama yang dipeluknya. Ini tidak menjadi soal selagi kita mampu menghilangkan alergi yang masih menjangkit di hati. Selebihnya, kita memerlukan pendidikan toleransi beragama sedari dini. Metode-metode pembelajaran yang tak elok harus segera disudahi. Jangan ajari anak-anak kita membenci. Jangan memperanakkan alergi. Kebangkitan Indonesia bisa kita mulai dari sini.  

####

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution